Minggu, 27 Maret 2011

“ DIARY BIRU ”

oleh: Dandy Kurnia



Cinta adalah sebuah misteri. Tiba-tiba datang, tiba-tiba pergi. Bisa membuat senang, bisa juga membuat sedih. Begitulah kata-kata terakhir yang di tulis Nadia dalam buku hariannya. Ia kelihatan begitu kesepian. Setiap hari ia selalu menumpahkah segala perasaan yang ia rasakan ke dalam buku hariannya.

Nadia adalah nama seorang gadis yang lucu, baik hati, dan memiliki paras yang cantik. Tapi sayangnya sudah hampir satu tahun ini ia hidup tanpa didampingi seorang kekasih. Saat ini Nadia kuliah disalah satu universitas negri di Jakarta.

“Hai Nad…”, terdengar suara seorang pria memanggil namanya. “ Hai juga..”, jawab Nadia. Ternyata itu suara Riki. “Lagi ngapain panas-panas duduk di taman kampus ?” tanya Riki. “Nggak lagi ngapa-ngapain kok, Cuma lagi nulis diary ” Jawab Nadia.

Riki adalah mahasiswa fakultas ekonomi. Ia memiliki wajah yang tampan dan juga bersifat baik hati. Jadi wajar saja bila banyak wanita yang menaruh hati padanya. Tarmasuk Nadia, sebenarnya ia telah lama memendam perasaan sukanya terhadap Riki.

“ Oh… lagi nulis diary, boleh liat nggak?” tanya Riki. “Nggak boleh dong, inikan rahasia” Jawab Nadia. “ Yawdah kalo nggak boleh liat, eh.. aku laper niyh…, aku mau makan dikantin dulu yha.., mau ikut nggak?” tanya Riki. “ Nggak ah… aku belum laper, lagian aku masih mau disini, mau terusin nulis diary..” jawab Nadia. “ yawdah kalo gitu, aku ke kantin dulu yha…” kata Riki.

Nadia pun kembali duduk sendiri disebuah bangku di taman kampus. Ia pun kembali menulis diary kesayangannya. “ Tuhan memang sangat bijaksana , ia menciptakan seseorang tanpa harga, karena jika ia melakukannya, aku takkan mampu untuk membeli seseorang yang sangat berharga seperti kamu…”

Tiap kalimat dalam tulisan di diarynya menggambarkan seseorang yang sangat dicintainya. Orang yang sangat berarti bagi dirinya.

Setelah menyelesaikan kalimat itu, Nadia pun beranjak dari tempat duduknya. Kemudian ia pergi menuju kantin. Ternyata disana masih ada Riki yang sedang menikmati makanannya. Nadia pun menghampiri Riki.

“Boleh ikut makan ga?” tanya Nadia. “ Boleh-boleh, silahkan..” jawab Riki. Nadia pun duduk disamping Riki. “ Pak!! Pesan nasi goreng sama es teh manis yha..!!” pesan Nadia kepada salah satu pelayan. “Suka makan nasi goreng yha?” tanya Riki. “ Iya.. aku suka banget… Emangnya kenapa ?” Nadia berbalik bertanya. “ Nggak kenapa-kenapa.., Kok sama yha? Aku juga suka banget makan nasi goreng.” Jawab Riki. “Oh yha..? wah kalo begitu kita bisa sering-sering makan bareng dong?.. Hehe.. Becanda” jawab Nadia dengan wajah berseri-seri. “boleh-boleh, atur aja… “ jawab Riki.

Mereka berdua pun asik menikmati makanan sambil mengobrol dan sesekali bercanda riang. Hati Nadia pun berbunga-bunga. Karena ia bisa makan bareng dengan pria pujaan hatinya. Mungkin perasaan Nadia sama dengan perasaan orang yang sedang terbang ke bulan.

Setelah cukup lama mengobrol dan menghabiskan makanan masing-masing, Nadia beranja pergi meninggalkan Riki. “ Rik.., aku duluan yha.., masih ada dua jam kuliah niyh…” kata Nadia. “ Oh.. Yawdah.., Met Belajar yha!..” jawab Riki.

Kini Riki duduk seorang diri dibangku kantin. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah buku berwarna biru yang tergeletak di meja. Ternyata buku itu adalah buku diary milik Nadia. Karena rasa penasarannya ia pun membuka buku itu, lalu membacanya selembar demi selembar. Setelah membaca beberapa lembar, mata Riki tertuju pada sebuah tulisan yang diberi tinta berwarna merah.

“Seperti sebuah nada yang tak akan pernah mati, begitu pula rasa cintaku kepadamu Riki”. Begitulah bunyi tulisan yang diberi tinta merah. Riki pun terkejut membaca tulisan itu. Ia tak percaya ternyata Nadia menyukai dirinya. Ia pun merasa bingung. Ia terharu dengan kalimat-kalimat indah yang ditulis Nadia untuk menggambarkan dirinya. Setelah membaca semua isi buku diary Nadia, ia pun berniat mengembalikan buku diary itu. Ia juga berniat untuk menanyakan perasaan Nadia yang sesungguhnya. Ia keluar dari kantin lalu ia menunggu nadi keluar dari kelasnya. Setelah menunggu cukup lama, Nadia keluar dari kelasnya. Riki langsung menarik tangan Nadia.

“ Nadia, aku mau ngomong sesuatu” kata Riki. “Mau ngomong apa?” tanya Nadia. “ Jangan disini yha.., kita ngomongnya ditaman kampus aja..” jawab Riki. “ Emang kamu mau ngomong apa siyh? Kayaknya serius banget…?” tanya Nadia. “ Nanti juga kamu tahu..” jawab Riki singkat. Mereka berdua berjalan keluar menuju taman kampus. Mereka duduk dibangku yang berada dibawah sebuah pohon yang rindang.

“ Mau ngomong apa sih?” aku jadi deg-degan..” tanya Nadia. Lalu Riki mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. “ itukan buku diaryku…!” Nadia berteriak. “Iya.. tadi ketinggalan di kantin” jawab Riki. “ oh iya.. aku lupa.. tadi aku taruh diatas meja, kamu nggak baca-baca diary aku kan?” tanya Nadia. “ Sebelumnya aku minta maaf yha.., aku tadi sempat baca diary kamu” kata Riki. “ Ih.. kokkamu nggak sopan gitu sih!” kata Nadia dengan nada yang sedikit marah. “ Kamu baca sampai mana?” tanya Nadia.“semuanya” jawab Riki. “ Jadi kamu tahu dong tentang…..” Nadia tidak sanggup meneruskan kalimatnya. “Perasaan kamu ke aku?”tanya Riki. Nadia hanya mengangguk. “Iya.. aku sudah tahu semuanya, kerena itu kamu aku ajak ngomong disini” kata Riki. “ Duh..aku jadi malu nih, Trus gimana ?” tanya Nadia. “ memang sudah berapa lama kamu suka sama aku?” tanya Riki. “ Sudah lama, kira-kia 8 bulan yang lalu.” Jawab Nadia.



Kenapa kamu bisa suka sama aku?” Riki kembali bertanya. “ Habis kamu orngnya baik dan perhatian lagi, apalagi waktu aku baru putus dari Roy, kamu ngasih aku nasehat dan harapan yang bagus, nah dari situ aku mulai tertarik sama kamu.” Jawab Nadia. “ Nad.. sebelumnya aku minta maaf yha..” kata Riki. Minta maaf kenapa? tanya Nadia. “Sepertinya kamu harus melupakan perasaan kamu ke aku deh..” kata Riki. “Emang kenapa?” tanya Nadia. “Soalnya sekarang aku sudah ada yang punya, jadi aku nggak ingin kamu terlalu mengharapkan aku, kamu bisa ngertikan ?” jelas Riki.

Hati Nadia hancur seketika ketika mendengar Riki berkata seperti itu. Bagaikan disambar petir. Perasaan Nadia hancur berkeping-keping. Namun ia mencoba sabar dan menerima apa yang tlelah terjadi.

“ Iya aku ngerti kok.., yang penting kamu sudah tahu bagaimana perasaan aku kepadamu.” Jawab Nadia. “Yawdah.. bagus deh kalau kamu bisa ngerti, tapi kita tetap temenankan? tanya Riki. “ Iya dong..kita kan temenan sudah lama, masa Cuma gara-gara masalah ini pertemanan yang udah lama kita jalin jadi putus.” kata Nadia.” “Ok deh kalau gitu.., Yawdah deh..aku Cuma mau ngomongin itu aja, terima kasih yha atas pengertiannya, tapi kamu nggak kenapa-kenapa kan? “ tanya Riki. “ Nggak kenapa-kenapa kok, Cuma sedikit sedih” jawab Nadia. “ Kamu nggak perlu sedih, banyak kok cowok yang suka sama kamu…, pasti kamu dapet yang lebih baik dari pada aku.” Riki mencoba menghibur Nadia.

Karena sudah tak mampu menahan linangan air matanya, Nadia pun beranjak pergi. “ Yawdah deh, aku pulang dulu yha.” Nadia lalu berdiri dan berbalik badan meninggalkan Riki. Terlihat jelas raut wajah sedih yang terlihat di wajah Nadia. Riki sempat melihat raut wajah itu. Riki menjadi merasa bersalah.

Sesampainya dirumah Nadia langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia menangis tersedu-sedu, dengan perasaan kalut dan hancur ia mengambil buku diary dari tasnya. Ia mencoba menuangkan seluruh perasaan yang ia rasakan ke dalam buku itu.

Setelah ia bisa mengendalikan diri dan berhenti dari tangisnya, ia pun mulai menulis. Kata demi kata ia tulis dengan penuh perasaan. Ia tuangkan semua perasaan yang rasakan saat ini. Perasaan kecewa, sakit hati, semua ia tuangkan dalam sebuah tulisan :

Sehari ini telah memunculkan

Kegalauan dalam jiwa dan perasaanku

Karena rasa cintaku padamu

Tak terbatas ruang dan waktu

Kini setiap detik yang kulalui

Terasa hampa tanpa dirimu

Seperti ada bagian yang hilang

Dari dalam diriku

Aku pun mengerti

Hanya kamu yang bisa

Mengisi kekosongan dihatiku

Namun sayang……

Kau telah memiliki bunga dihatimu

Mungkin aku memang tak pantas untukmu

Karena aku hanyalah

Manusia tersesat yang menunggu mati

Begitulah isi lembar terakhir dari buku diary milik Nadia. Kini buku diary itu telah tertutup dan tersimpan di sebuah laci. Begitu pula perasaan Nadia terhadap Riki yang kini telah tertutup dan hanya tersimpan dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar